Tugas 3 - Contoh Tulisan ilmiah populer

SHermawan
0

Pada kali ini, SH akan membahas mengenai Demonstrasi unjuk rasa pendemo yang ingin kenaikan Gaji.
Hal ini sebenarnya lumrah adanya jika orang-orang yang mengaku "Buruh" menuntut hidup layak, namun seharusnya sebelum menuntut, mereka melihat kembali kinerja yang telah di berikan kepada perusahaan seperti apa. saat ini muncul oknum-oknum yang menggerakkan massa buruh untuk melakukan aksi demonstrasi menuntut kelayakan hidup. namun harus di perhatikan juga tingkat dari perusahaan tersebut apakah mampu memenuhi tuntutan tersebut atau tidak. pada tahun 2013 aksi demo kembali di lakukan untuk menuntut kenaikan gaji (umr) di setiap daerah, dan yang terbesar adalah terjadi di daerah Jakarta, berikut salah satu berita yang SH ambil dari Kompasiana :

Tahun ini, demo buruh yang terjadi di berbagai kota seringkali menghiasi pemberitaan di media massa. Mereka menuntut gaji buruh dinaikkan, nominalnya beragam. Dan yang paling tinggi mungkin tuntutan buruh di DKI Jakarta yang menginginkan gaji buruh sebesar Rp. 3,4 juta/bulan. Iya, siapa sih yang enggak mau hidup layak dan sejahtera dengan gaji yang mencukupi?
22 tahun yang lalu, ayah dan ibu saya bekerja sebagai buruh pabrik tekstil di Padalarang, Bandung, mereka pernah bercerita tentang suka-duka menjadi seorang buruh. Soal gaji, dari dulu gaji buruh memang jauh dari cukup. Ayah saya bilang hanya ada dua pilihan untuk seorang buruh, hidup sederhana atau jadi wirausaha.
5 tahun lamanya ayah saya menjadi seorang buruh, sedangkan ibu saya 3 tahun menjadi buruh dan berhenti bekerja semenjak saya lahir. Selama itu, ayah saya tidak kunjung naik jabatan, gaji yang rendah sedangkan kebutuhan hidup terus meningkat membuat ayah saya berhenti bekerja sebagai buruh dan memilih untuk berwirausaha, saya ingat beliau pernah menjadi seorang tukang ojek di daerah Ujungberung, Kota Bandung.
Atas keuletan dan kegigihan beliau, saat ini ayah saya memiliki toko buku yang sudah memiliki 3 cabang dengan omzet jutaan rupiah perbulan. Hidup kami kini serba kecukupan, sudah memiliki rumah, saya bisa kuliah, mereka dan memiliki tabungan  simpanan untuk masa depan adik-adik saya. Enggak kebayang deh kalau ayah saya sampai saat ini masih jadi buruh.
Melihat pemberitaan tentang buruh yang menuntut upah tinggi, ayah saya hanya bisa tertawa. Beliau menuturkan bahwa tindakan buruh yang seperti ini hanya akan membuat pemilik pabrik menutup pabriknya, dan angkat kaki dari Indonesia. Bayangkan kalau perusahaan sebesar berskala internasional yang sudah berinvestasi dengan membuka pabrik di negara kita kemudian menutup pabrik hanya karena gaji buruh yang tidak masuk akal, bukannya dapat upah tinggi malah kehilangan pekerjaan.
Ayah saya juga menuturkan bahwa upah buruh yang tinggi juga akan membuat para sarjana lulusan perguruan tinggi di negara ini memilih untuk menjadi buruh, sudah mahal-mahal kuliah setelah lulus ‘hanya’ jadi buruh dengan alasan: daripada nganggur.Kalau semua generasi muda lebih tertarik ikut Tes CPNS dan melamar kerja ke pabrik, siapa yang jadi wirausahawan? Pemerintah seharusnya tidak memanjakan buruh dengan gaji yang tinggi, profesi buruh itu seharusnya dijadikan batu loncatan untuk karir yang lebih baik, bukan profesi yang tetap.
Negara ini butuh wirausahawan muda, untuk menyediakan lapangan kerja baru. Gaya hidup hedonis sudah mewabah hingga kepada buruh pabrik, sehingga mereka lebih memilih untuk berdemo, menuntut upah yang sangat tinggi demi memenuhi kebutuhan duniawi.  Seharusnya kita sadar, sebuah pabrik bisa gulung tikar kapanpun juga, sebuah perusahaan berskala internasional bisa saja menutup pabriknya di Indonesia dan berinvestasi di negara lain yang upah buruhnya lebih murah. Jangan jadi buruh kalau ingin punya gaji yang tinggi.

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)